Remaja Swedia vs seks
1001 SwediaPosted by aku Thu, November 08, 2007 21:37:41Kemarin aku menyempatkan diri menonton sebuah film remaja Swedia yg diberi judul Buku Harian Nina. Film tsb ditujukan untuk penonton mulai umur 13 tahun. Secara garis besar film tersebut menggambarkan kehidupan seorang remaja putri berusia 15 tahun yang duduk di kelas sembilan atau kalau di Indonesia kelas 3 SMP. Lika-liku kehidupan seorang Nina yang mencerminkan kehidupan para remaja Swedia. Suka duka dalam kehidupan di keluarga, sekolah dan pergaulannya.
Yang paling mengagetkan aku adalah karena film tersebut jauh berbeda dengan film remaja Indonesia. Kalau film remaja Indonesia masih berkisar kehidupan remaja yang penuh hura-hura dan malu-malu kucing soal cinta. Film Swedia ini beda sekali dengan film remaja Indonesia, lebih terbuka dan blak-blakan. Sang Nina yang masih berusia 13 tahun tsb tampil habis-habisan bahkan dalam soal seks. Memang sih salah satu isu dalam film tsb adalah kekhawatiran sang remaja akan keadaannya yg belum pernah dicium dan masih perawan dan tidak populer di sekolah.
Swedia memang terkenal akan kebebasan dalam soal seks. Anak-anak sudah di beri pengertian soal anatomi tubuh manusia dan reproduksi, atau lebih tepatnya darimana datangnya bayi, saat mereka di kelas 2 SD. Dan soal seks dan alat-alat kontrasepsi mulai dari ketika mereka duduk di kelas 6 SD. Para pelajar dibagi dalam dua grup; lelaki dan perempuan. Mereka bisa bertanya apa saja soal seks dan semua pertanyaan akan dijawab secara terang-terangan oleh sang perawat sekolah. Kalau malu bertanya langsung, mereka boleh menuliskan pertanyaan mereka di kertas secara anonim dan memasukkannya dalam kotak khusus. Nanti dalam pelajarang berikutnya pertanyaan- pertanyaan tersebut akan dijawab. Intinya mereka diberi pengertian soal bahaya dibalik seks bebas. Biasanya kalau remaja di larang untuk melakukan sesuatu, mereka justru akan melakukannya. Biasanya juga remaja akan memilih untuk tidak melakukan sesuatu kalau mereka mengerti akibat apa yang ditimbulkan oleh hal tsb. Ini bukan omong kosong, karena aku sudah konfirmasi soal ini dari ibu mertuaku yang pensiunan guru SD.
Kalau di pikir, jadi orang tua yang memegang tradisi dan adat istiadat Indonesia dan membesarkan anak di Swedia pastilah sangat sulit. Mendoktrin anak bukanlah cara yang bagus karena hanya akan membuat anak menjadi pemberontak. Tapi memberikan kebebasan sebesar-besarnya kepada anak juga tidak baik.
Kebanyakan anak di Swedia menyadari hak-hak mereka. Mungkin mereka diajarkan di sekolah. Yang pasti orang tua di Swedia tak bisa seenaknya saja memperlakukan sang anak. Orang tua tak bisa menghukum anak secara fisik dan mental karena sang anak memiliki hak untuk melaporkan orang tuanya ke polisi. Minggu lalu aku baca di koran lokal soal seorang ibu yang di hukum penjara karena memukul anaknya, juga soal seorang guru yang di adili karena menampar muridnya yang nakal.
Pasti kalau orang tuaku dengar soal hal ini, mereka akan geleng-geleng kepala dan meneriakkan pendapat-pendapat mereka yang keras. Tapi itulah kenyataan di Swedia. Dan aku pikir juga untuk apa disembunyikan karena toh anak-anak dan remaja juga pasti akan bisa membaca atau nonton soal ini di majalah atau tv atau film atau lewat internet.
So, what do you think?
- Comments(3)http://kabarku.fajaru.com/#post81

