Lebaran di Swedia
1001 SwediaPosted by aku Mon, October 15, 2007 21:45:22Lebaran tahun ini, di Swedia, jatuh pada hari jumat tgl 12 Oktober 2007. Lebaran tahun ini bukan lebaran pertamaku disini. Ini lebaran ketigaku di Eropa, jauh dari orang tua dan saudara. Karena jalan hidup menentukan demikian jadi aku berusaha untuk tidak mengeluh
Lebaran di sini, suasananya beda sekali dengan di Indonesia. Tak terdengar lantunan takbiran dari mesjid, tapi bukan karena bunyinya kekecilan tapi memang tempat tinggalku jauh dari mesjid. Aku tinggal di kota Lund, di sebelah selatan propinsi Skåne. Mesjid adanya cuma di kota Malmö yang jarak tempuh dengan bis bisa 1 - 1,5 jam dari kota Lund. Tapi santai saja. Allah memberikan banyak kemudahan bagi umat islam. Kita bisa Shalat di rumah saja walaupun pahalanya lebih sedikit daripada shalat berjamaah.
Malam takbiran di iringi dengan takbir dari internet, rasanya sedih karena ingat orang tua dan keluarga. Tapi bukannya hidup kita juga adalah ibadah selama tujuan hidup kita adalah yang benar? Jadi harusnya kita jangan bersedih atau kecewa.
Zakat fitrah, bayarnya ke Indonesia saja. Pertimbangannya adalah semua orang yang tinggal di Swedia, yang tidak mampu, ditanggung biaya hidupnya oleh pemerintah Swedia. Ada bantuan untuk tempat tinggal, uang makan, biaya kesehatan, uang pakaian, dan uang sekolah. Tapi orang-orang fakir dan miskin di Indonesia tidak punya kenikmatan yang sama. Makanya banyak manfaatnya kalau zakat di berikan di Indonesia saja.
Shalat Id tahun ini adalah shalat Id pertamaku berjamaah di mesjid di Swedia. Sudah 2 kali lebaran disini aku tak shalat Id di mesjid karena ada praktek laboratorium wajib dan ujian akhir semester. Bukankah tak apa shalat Id seorang diri? Yang penting dilaksanakan walaupun amalnya tak sebanyak kalau shalat berjamaah. Tapi tahun ini ingin juga shalat di mesjid, makanya memilih bolos dari kuliah. Tak mengapa, toh hanya kuliah biasa.
Berangkat dari rumah jam 05:30 pagi supaya sempat ikut shalat jam 07.30 di mesjid di kota Malmö. Berangkat sendiri karena suamiku tak dapat ijin libur dari kantornya. Alhamdulillah, dijemput teman dan suaminya di stasiun kereta api Malmö. Jadinya tak perlu repot naik turun bis kota ke mesjid. Sampai di mesjid duduk2 mengumandangkan takbir sambil tunggu saatnya shalat Id. Dari pengeras suara diberitahukan ttg rakaat shalat dan caranya. Sama dengan di Indonesia. ok dech tak ada masalah. Ketika shalat mulai, Masya Allah, ternyata tak sama seperti shalat Id kita di Indonesia. Shalatnya pada rakaat pertama hanya 5 kali takbir dan surat yg dibaca adalah Al-Fatihah dan surat Al-Falaq. Pada rakaat kedua setelah takbir pertama langsung membaca Al-Fatihah dan diteruskan dengan Al-Ikhlas. Nah, habis itu baru takbir 3x. Apa yang terjadi adalah, kebanyakan ma'muun sudah pada ruku setelah takbir pertama di rakaat kedua. Termasuk aku . Pokoknya mulai diari situ udah kacau sekali dech. Baru sadar kalau imamnya masih takbir ketika aku sudah dalam perjalanan untuk sujud. Hanya bisa Astagfirullah aja dalam hati. Jadinya saat aku duduk antara dua sujud jadinya panjang sekali. Dan banyak juga yang sujudnya sampe 3 atau 4x. Masya Allah.
Habis salam, langsung heboh. Ternyata bukan kita orang Indonesia saja yang kacau. Para ma'muun dari negara lain juga bingung. Kan sudah disampaikan sebelumnya dalam bahasa Swedia urut-urutan shalatnya yang sama seperti di Indonesia. Kenapa jadi laen ya?
Shalatnya cepat banget hanya sekitar 15 menit dan tanpa khotbah. Salam-salaman dan temani seorang teman menagis, maklum ini lebaran pertamanya di Eropa. Tadinya tak mau menitikkan air mata tapi berhubung dia nangisnya panjang dan lama akhirnya menular juga. Setelah itu, kita pada pulang rame2. Ceritanya mau bertandang ke rumah seorang ibu orang Indonesia yang ngadain open house buat lebaran tapi ternyata open housenya jam 10:30. Akhirnya ramai-ramai pergi ke toko cina untuk beli indomie goreng, tauge, dan bok coy serta telur untuk di makan. Mampir di rumah teman untuk masak dan makan sambil mendiskusikan shalat tadi. Ternyata walaupun menu lebaran kita cuma indomie, tapi nikmatnya tak ada duanya.
Nah, jam 10:30 akhirnya kita pada makan lontong, rendang, opor ayam, dan teman-temannya yang lain. Hati terhibur walaupun rasanya sedih jauh dari keluarga. Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini berlalu dengan baik. Insya Allah, amalan kita di terima oleh Allah SWT.
Selamat Lebaran 1428H, mohon maaf lahir dan batin!


- Comments(3)http://kabarku.fajaru.com/#post78

